Sebelum magang, proses kebingungan mencari tempat magang menjadi sesuatu yang menggemparkan seluruh kampus. Pertanyaan, "kamu magang mana?" menjadi topik yang lebih menarik daripada "Topik magangmu apa?" Awalnya, aku sangat yakin aku akan diterima di sebuah perusahaan besar, yang nantinya akan kujadikan target pertama untuk bahan skripsiku. Proposal sebaik mungkin, dilengkapi dengan portofolio yang menunjukkan "kehebatan" akademis dan non akademisku, sudah kukirimkan. Dengan percaya diri, aku menjawab pertanyaan mengenai tempat magangku dengan, "Aku sudah mengirimkan proposalku ke mall ini dan perusahaan telekomunikasi itu. Tinggal tunggu hasil." Melihat wajah temanku yang terpesona adalah sebuah kesukaan bagiku. Betapa sombongnya aku saat itu.
Tuhan meruntuhkan semua kesombonganku itu dengan kalimat "Proposal Anda telah kami terima. Tapi, kami masih belum membutuhkan mahasiswa magang" dari HRD perusahaan - perusahaan itu. Kedua perusahaan yang kutargetkan telah menolakku. Hatiku runtuh dan kacau saat itu. Sempat protes pada Tuhan, mengapa teman - temanku yang lain bisa diterima perusahaan besar dan aku tidak? Berjuang dan berdiskusi bersama teman seperjuanganku, There dan Nciss menjadi pelampiasan kekesalanku.
Mencari banyak cara untuk menemukan tempat magang bukanlah hal yang mudah. Ditambah dengan kehilangan waktu satu minggu, karena hadiah luar biasa dari Tuhan, ternyata juga membuyarkan pemikiran dan usahaku mencari tempat magang. Berkutat dengan nomer telepon dan relasi - relasiku menjadi cara terakhir. Akhir Mei 2011, Tuhan menjawab doaku. Dia siapkan satu tempat magang untukku.
Tuhan mengikis kesombonganku dengan menempatkanku di sebuah perusahaan yang untuk bermegah diri pun aku tidak bisa. Perusahaan dengan karyawan hanya 5 orang pada awalnya menjadi pilihan terakhir untukku. Perusahaan yang baru saja berdiri dua tahun, tanpa sistem dan hampir tak punya identitas jelas (company profile). Ekspresi kaget teman - teman dan dosen menjadi makananku sehari - hari sejak itu.
"Kamu magang mana, Pau?" "Aku di Sitoes Indonesia." "Hah? perusahaan apa itu?"
adalah pertanyaan yang harus kujawab setiap hari. Menjelaskan mereka di mana aku magang. Mereka sangat kaget dengan keputusanku itu. Mereka sangat menyayangkan aku melewatkan kesempatan magang di perusahan besar di Jakarta, seperti There, sahabatku yang mendapatkan tempat magang di Indofood, Jakarta.
Hingga seorang teman datang dan meyakinkan aku, "Aku tau tidak mudah untuk menjalankan magang di perusahan kecil. Tapi, cobalah bawa pembaruan buat mereka." Keyakinan akan pilihanku makin bertumbuh sejak kata - kata itu diluncurkan dari mulut Ce Dhiah, kakak kelasku. Tuhan memantapkan pilihanku dengan uluran tangan dari pimpinan perusahaan yang kemudian mengatakan, "Okay, see you on August 8!" Dan di sinilah aku sekarang. Belajar jadi karyawan kecil yang memulai segalanya dari bawah!

Aku baru saja membaca artikelmu ini pau...Serasa ketakutan kita adalah sama di awal2 magang..hehe..=)
ReplyDeleteTenang pau, besarnya suatu perusahaan itu gak menjamin kitanya pasti akan berkembang.. Yang penting itu ada perkembangan dan pembelajaran hal baru di manapun kita hadir..=)
Tetep semangat pau.. Tetep semangat Fikom 08..
Mari kita selesaikan semester 7 ini dengan maksimal dan indah..hihihi..=)
hehe... iya... kita kan hampir aja mau magang di tempat yang sama kan Lid? tapi, ga jadi gara2 bapaknya sibuk rapat... wkwkkwkwkw.... semangat kawan... (Paulin)
ReplyDelete